Marah

Pict pinjem dari http://gloopic.net/article/rohani-islam/keutamaan-menahan-amarah

Siapa disini yg gak pernah marah?

Saya rasa semua akan menyembunyikan telunjuknya, sebab “penyakit” satu ini pasti pernah hinggap ditiap individu. Kalau ditanya “Kapan terakhir kali marah?” saya donk dengan malu langsung mengangkat tangan dan menjawab “baru saja beberapa jam yg lalu saya marah 😢”

Jadi ceritanya udah 2 hari ini saya agak lepas kontrol. Biasanya saya hanya menunjukkan sisi keceriwisan dan siswa-siswa akan berceletuk dengan berkata, “Kakak cerewet kali sih”. Tapi beda dengan 2 hari ini, kemarin saya masuk disalah satu sekolah kerjasama. Kebiasaan saya setiap awal masuk kelas adalah tersenyum ramah dan menyapa setiap siswa, kelas yg memang lah sudah tak kondusif sebab tak adanya jendela dan pintu, kebayang lah ya keributan dari luar akan langsung masuk ke kelas, belum lagi jumlah siswa laki-laki mendominasi jadi suara saya yg udah cukup maksimal masih saja kalah dengan suara keributan yg entah datang darimana. Sudah lah sumbu sabar saya memang sangat pendek, tetiba emosi saya meletup sebab siswa-siswa yg menimbulkan keributan. Nah, saat pembahasan soal yg paling mengganggu saya adalah siswa yg berulang kali menanyakan jawaban untuk pertanyaan yg sudah dibahas, tadi kamu kemana sih dek -_-“  jujur hal tersebut akan dengan mudah menyulut kekesalan saya. Padahal setiap selesai satu pembahasan, saya akan kembali membacakan jawaban untuk nomor soal tersebut. Tapi ya siswa tetaplah siswa, ketika saya malah mengambil langkah diam dengan menyelesaikan pembelajaran padahal masih ada sisa 30 menit sebelum bel akhir, tetap saja ada beberapa bisik-bisik yg merasa sok gak peduli dengan keadaan. Saya bukan termasuk pengajar yg suka marah-marah dan menasehati dengan berbagai macam petuah lama yg mungkin mereka juga sudah bosan mendengarkannya. Saya hanya diam dan menutup pembelajaran, beberapa detik saya diam dan duduk serta sekalian menyusun absen dan bersiap menunggu bel pulang, disaat itu pula siswa-siswa baru menyadari kemarahan saya. Mereka diam, dan saya sudah kesal. Peringatan saya sebelumnya semacam diabaikan, ketika saya sudah kesal barulah beberapa siswa menunjukkan sikap menyesal, meminta pembelajaran dilanjutkan, tapi saya donk sok jual mahal ahahha. Pembelajaran baru saya mulai sekitar 5 menit setelah saya membiarkan mereka diam dan saling tatap menyalahkan.

Kemarahan saya yg kedua terjadi tadi sore. Saya masuk dikelas rendah, kelas 7, dan di les kedua pulak, ah sumbu sabar saya kembali diuji. Saat penyampaian materi, siswa masih menunjukkan sikap responsif dan suasana juga masih kondusif, nah saat pembahasan soal, mulai lah siswa-siswa saya bertingkah, menunjukkan gelagat minta perhatian lebih. Saya sudah berulang kali menegur, memperlambat kecepatan suara dan bahkan menurunkan volume suara, tetap saja ada beberapa siswa yg kembali berulah. Salah satu cara yg saya pakai untuk menahan amarah adalah menurunkan volume suara sehingga siswa akan sontak terdiam dan memberi perhatian maksimal untuk mendengarkan. Ah, namanya juga siswa kelas 7 ya, masih suka bermain daripada belajar serius dalam jangka waktu yg lama jadi saat saya sedang menjelaskan ketika ada yg bertanya, malah ada satu orang siswa berjalan menuju tempat duduk temannya dan sibuk mengoceh sehingga membuat saya langsung tersulut amarah. Saya marah, dan siswa tersebut hanya terdiam serta tertunduk dan kembali duduk ditempatnya. Saya yg menyadari kesalahan langsung melihat perubahan sikap siswa tersebut yg mendadak diam dan tak bertingkah polah lagi. Duh, saya merasa bersalah, langsung meminta maaf dan memperingatkannya agar tidak mengulangi kesalahannya, dia hanya berkata iya dan tetap tertunduk. Sontak hati saya merasa sedih, saya langsung mendekati tempat duduk siswa tersebut dan memintanya untuk menatap mata saya dan menjawab jujur jika memang amarah saya tadi melukainya. Dan lagi-lagi dia hanya berkata iya. Saat menjelang akhir pelajaran, siswa tersebut mendekati saya dan meminta maaf karena telah membuat saya marah. Ya, saya memang marah saat itu, kesal ketika saya diabaikan, tapi entah kenapa setiap melihat siswa yg menyesal atau sedih ketika amarah saya meluap, membuat saya tak tega dan menyesal karena telah bersuara dengan nada tinggi dan mungkin bagi mereka cukup menyakitkan.

Duhai Dek, maafkan kakak yg belum bisa mengontrol amarah ya, yg masih tetap mudah tersulut ketika tingkah kalian salah, yg belum mampu memperingatkan dengan cara yg lebih terarah.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. mfadel says:

    Wah, saya jadi tahu sudut pandang guru kalau sedang marah haha. Memang rasanya bersalah sekali kalau membuat guru kita sampai ngomel2 marah, entah itu karena muridnya sengaja maupun tidak. Pasti dah kalau udah sampai marah kami sebagai murid saling sikut menyalahkan 😀

    1. siperibiru says:

      Terkadang saya juga banyak blajar dari siswa Del, termasuk menjaga dan mnyeleksi pemilihan kata, krna ada bberapa siswa yg kelihatan luarnya ok dan bisa dikategorikan lumayan ribut ternyata bisa mudah tersinggung dengan kalimat2 yg saya anggap biasa.

      Dari dulu yg namanya yg murid mmg saling sikut klo gurunya udh marah2 kan ya Del 😂

  2. pidiya says:

    Followback please☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s