Cerita April

image

Pict dari sini

Kia ora!

April tahun ini seolah menjadi bulan yg cukup melelahkan bagi saya. Semua impian saya nyaris dibangun serta meluap tepat dibulan ini dan seketika terhempas di penghujung April sebab kesalahan saya sendiri yg masih terasa sisa kesal dan sedihnya 😥
Jadi biarlah saya tuliskan saja disini kejadian apa saja yg saya lalui di April ini agar kelak bisa jadi reminder buat diri saya sendiri 😊

Di awal April saya seolah merasa tergesa ingin segera mengikuti tes yg sudah saya daftar tepat dihari gajian tiba 😆 mengingat tes ini menjadi salah satu tiket untuk menjemput keinginan saya. TOEFL ITP yap! Siapa yg tak kenal tes jenis ini. Salah satu tes Bahasa Inggris untuk mengukur kemampuan kita dalam pemahaman bahasa tersebut secara akademik. Meskipun beberapa donatur mensyaratkan TOEFL iBT tapi jenis TOEFL ITP juga masih bisa diperhitungkan. Kenapa tak mendaftar utk yg iBT saja? Masalahnya apalagi kalau bukan dana, 190 dolar. Jumlah yg cukup besar mengingat penghasilan sebulan saya akan habis seketika kalau mencoba tes jenis ini. Sudahlah ITP saja toh kalau lulus berkas juga masih akan disediakan tes bahasa lagi. Dengan tekad bulat akhirnya diawal April saya transfer sejumlah nominal yg cukup membuat saldo rekening saya berkurang 😂 ah rezeki masih bisa dicari asal kesempatan kali ini saya pergunakan maksimal. Saya mengikuti tes TOEFL ITP di Univ Nommensen kota Medan. Kenapa disitu? Sebab cuma Univ ini yg saya tahu lokasinya dan mudah dilintasi angkot bagi angkuters seperti saya, memang ada beberapa lembaga di kota Medan yg menyediakan tes serupa tapi mengingat kendala saya adalah transportasi jadi saya putuskan untuk di Univ tsb saja.
Tgl 9 April pun tiba. Ujian dijadwalkan akan dimulai pukul 9 dan peserta diharuskan tiba di lokasi 30 menit sebelumnya, sehingga mengharuskan saya bergerak cepat di pagi hari dari Binjai tercinta.

image
Persiapan perang

Ada 2 buku latihan yg sudah saya lahap habis semua tesnya sehingga membuat saya agak sedikit lega sebab merasa sudah lumayan terbiasa dengan pola soalnya. Tiba di lokasi ujian, ternyata masyarakat Indonesia Raya ini masih belum berubah, molor aja donk sehingga dimulai nyaris pukul 10. Hal yg lumayan mengecewakan saya saat tes adalah Listening section, saya yg saat latihan menggunakan kedua buku tersebut mendownload file listening dan mencobanya dari handphone menggunakan headset sehingga membuat saya fokus dengan suara yg keluar, malah harus berhadapan dengan tape dan speaker besar saat ujian. Dasar saya nya yg mulai kurang fokus, saat Listening section Part C yg teks panjang itu, udah mulai pikirannya melayang entah kemana. Saya hanya sempat fokus dibeberapa bagian saja dan berujung menerka jawaban yg sesuai 😂 Kendala lain yg saya hadapi adalah masalah waktu. Kalau buku latihan yg saya gunakan memang tak pernah memakai tenggat waktu, saya hanya menyelesaikan soal dengan waktu yg bebas. Beda halnya saat saya latihan menggunakan beberapa aplikasi di hp yg turut disertakan dengan hitungan mundurnya. Nah saat ujian, saya yg pede sudah pernah berhadapan dengan pengerjaan soal disertai tenggat waktu, malah keter sendiri sebab latihan tak sesuai kenyataan. Saya tak memperhatikan detil pengerjaan, iyalah kalau dihp tinggal baca soal, sentuh jawaban, next, jadi masih banyak waktu yg tersisa. Tapi saat ujian, itu jawaban mesti dihitamkan sesuai kolomnya teman. Saya yg sudah lama tak pernah berhadapan dengan pengerjaan jawaban seperti ini menjadi heboh dan sibuk sendiri, waktu 25 menit untuk 40 soal itu terasa sangat berharga 😂 belum lagi di Reading section saya harus membaca teksnya berulang sebab kemiskinan kosakata yg saya punya, belum lagi waktu yg hanya 55 menit utk 50 soal. Selesai ujian saya hanya bisa keliyengan, iya. Kebut membaca soal dan kebut menghitamkan jawaban. Selesai ujian saya berusaha menyemangati diri sendiri, sudahlah yg penting sudah berusaha, masalah hasil serahkan saja pada yg Maha. Toh, hasil tak pernah mengkhianati usaha kan 😉

Ujian TOEFL selesai! Tinggal menanti hasilnya yg saya harapkan sesuai keinginan. Tapi menanti skor TOEFL pertama saya ini seolah waktu berjalan lambat sekali.

Ok, tinggalkan dulu ujian TOEFL sejenak, lanjut ke ujian berikutnya yg diadakan oleh lembaga tempat saya bekerja. UKMP ke dua bagi saya. Yang pertama bisa cek ceritanya disini. Ujian tahun ini saya sudah naik level aja donk, ke level SMA. Senang? Gak! Padahal saya sudah pasang target untuk menjadi Juara UKMP pertama Bahasa Inggris se Indonesia untuk tingkat SMP, tapi apa daya atasan berkata lain. Pihak akademik mendaftarkan saya utk mengikuti ujian tingkat SMA. Saya yg sama sekali belum pernah ujian untuk tingkat ini merasa yah everything will run well yaa. Gak punya modul yg bisa dipelajari, terlebih otak saya yg agaknya sudah mulai kepenuhan sebab diisi oleh materi TOEFL 😁 Jadi saat ujian tiba di tanggal 14 April, saya mencari posisi senyaman mungkin. Sudah lah waktu ujian yg dimalam hari, ditambah lagi sebelumnya saya masuk dari pagi, jadi seharian itu sampai pukul 9 malam, saya berada di tempat kerja tercintah! Bagaimana soalnya? Masih pola UN. Saya donk berani mati, tetap mengisi semua soal yg ada, tak perduli dengan hitungan minus utk soal yg salah. Esok paginya kami kembali melanjutkan ujian. Hari ini untuk pola SPMBTN dan Olimpiade. Tapi tolong jangan bayangkan pola-pola soal yg saya sebutkan tadi sama kadar kesulitannya dengan soal utk pola yg sama diujian sesungguhnya yg dihadapi oleh siswa-siwa Indonesia, yg ini jauuuuuh. Jauh lebih sulit maksudnya 😅 Dari beberapa soal yg ada, yg cukup saya ingat adalah soal di Olimpiade yg membutuhkan penalaran dan analisa. Ada sebuah teks yg panjang, sebanyak satu halaman full, isinya kurang lebih membahas tentang penggunaan kata yg bermakna sama seperti hard dan difficult. Dan soal yg menyertainya kira-kira seperti ini “As used in paragraph (lupa) which of the following best describe something that is superflous?” Pilihan jawabannya itu berupa suatu kondisi yg  sesuai dengan si superflous itu. Kembali saya berani mati dengan tetap mengisi semua jawaban yg ada 😁

Berlalu dari UKMP yg cukup seru itu, saya mencoba kembali memfokuskan diri sejenak dengan tujuan awal saya di bulan ini. Mencari kembali berbagai informasi tambahan mengenai hal yg saya inginkan, mungkin ada jenis pilihan lain. Dan secara sengaja melupakan essay yg harus saya lengkapi. Mengapa sengaja? Saya yg masih menanti skor TOEFL malas rasanya mengerjakan essay sebab takut kalau skor saya dibawah 500, buat malu rasanya, jurusan Bahasa Inggris tapi skor rendah 😑

Di bulan April ini saya sempat merasa tak enak badan, demam, masuk angin, mungkin terlalu letih dengan rutinitas. Sekitar 2 hari setiap pagi nya saya cuma terbaring lemas di kamar tapi tetap berusaha bangkit untuk bekerja jika siang menghampiri. Tepat di hari ke 3 demam meriang manja itu, masuk email yg membuat saya segera menarik selimut karena sukacita, salah satu tiket saya menuju impian sudah berada di genggaman.

image
Email pembawa kabar baik

Bagaimana cerita saya selanjutnya? Apa sebenarnya impian yg saya kejar? Apa yg menyebabkan penyesalan di penghujung April?
Nantikan cerita selanjutnya dibagian ke 2 yaa.
Udah malam, saya pengen istirahat cantik, agar besok bisa kembali menebarkan aura positif 😉

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Ayo dong ceritain, penasaran

    1. siperibiru says:

      Udah d update yaa mba cantik 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s