Mimpi

image

Gambar dari sini

“Huuh, huuh”
Aku terus memaksa kaki untuk berlari, semakin cepat ku seret langkah ku menjauhi sosok yang terus berusaha mengejar ku. Tak ku perdulikan ranting pohon yg ku injak, batu kerikil yg tersepak asal aku bisa lolos dari pandangan tajam matanya yg seolah mampu mencabik habis diriku. Aku terus memaksa kaki ku untuk berlari meski sudah semakin sedikit oksigen yg ku hirup. Tak ku hiraukan itu, tetap ku pacu semangatku agar semakin hilang dari pandangannya.

“Mentari, bangun sayang. Sudah hampir pukul 6, kamu gak mau ketinggalan bus lagi kan? Mentari, kamu dengar bunda gak sih?”

“Iya Nda, aku udah bangun kok”

Ah, mimpi itu lagi. Mimpi yg sama yg terus berulang hampir seminggu belakangan ini. Ku seka peluh yg membanjiri pelipis ku. Baju tidur ku juga sudah basah oleh keringat. Mimpi itu semakin nyata ku rasa. Ku raba pergelangan kaki ku, sedikit nyeri ku rasa disana. Mungkin terlalu lelah berlari gumam ku, padahal jelas semua itu hanya mimpi. Ya hanya mimpi yg seolah menjelma nyata.

°°°

Malam selalu menjadi mimpi buruk bagi ku nyaris seminggu ini. Malam seolah menjelma menjadi hal yg paling menakutkan bagi ku. Malam seakan tak pernah ku harap kan lagi kehadirannya. Sebab aku benci mengulang mimpi yg sama, merasakan ketakutan yg mirip, serta membiarkan perasaan takut ku semakin membesar hinggap disana. Aku tak pernah berniat menceritakan semua mimpi itu pada bunda, aku pun merasa jika bunda sudah lelah dengan segala rutinitas hariannya maka mendengarkan mimpi ku pasti hanya jadi dongeng baginya. Biarlah ku dekap erat ketakutan ini sendiri, semua mimpi aneh ini.

°°°
“Pagi Nda, makasih ya udah selalu menyiapkan sarapan untuk aku”.

“Sudah kewajiban bunda, Sayang. Kalau bukan untuk kamu, untuk siapa lagi Bunda memasak semua makanan ini. Sudah, lekas habiskan sarapannya nanti kamu terlambat lho”.

“Iya Nda”.

Kembali ku urungkan niat ku untuk menceritakan mimpi itu pada Bunda. Entah lah, biar ku simpan rapat sendiri lagipula mimpi itu seperti sudah ku hafal dalam memori. Seperti menjadi rutinitas ku melalui semua mimpi itu. Aku memang sudah tak mimpi berlari lagi menjauhi sosok misteri itu. Aku malah berusaha mengikuti kemana sosok itu pergi, aku tak lagi menatapnya ngeri. Sekilas sosok itu hampir sama dengan ku. Postur tubuh nya, bentuk wajahnya saat ku lihat sekilas dari samping tempat persembunyian ku, nyaris sama persis. Mungkin karena ini semua adalah mimpi jadi semua seolah mengikuti kemauan hati ku.

°°°

Tak pernah lagi ku temukan sakit disekitar tubuh ku setiap terbangun pagi hari, atau peluh yg membanjiri. Semua semakin berjalan normal saja. Tapi mimpi itu tetap saja sama, berulang terus seolah ingin mengungkap tabir lain. Aku semakin sering terbangun sebelum subuh. Memberikan sedikit waktu untuk diriku menikmati pagi yg akan segera tiba. Mendengarkan suara semesta yg memberi tanda kalau mentari akan muncul segera. Semuanya selalu ku nikmati, meskipun ada satu hal yg mengganjal hati ku lagi. Suara-suara gaduh yg ku dengar dari lantai bawah kamar ku. Suara pekikan Bunda yg ku dengar sayup melambai dari bawah sana. Tapi kembali tak pernah ku tanya. Sebab Bunda akan selalu menyuruhku menghabiskan sarapan ku segera.

°°°
Mimpi ini lagi, tapi ini bukan tanah basah lembab, ini ruangan hangat yg sangat ku kenali aromanya, ku hafal setiap senti sudutnya, ini rumah ku. Iya, rumah ku. Tapi bagian apa ini? Aku tak pernah merasa ada bagian seperti ini di rumah ku. Lorong gelap, bau kayu semerbak, dan deritnya setiap aku bergerak. Dan suara gaduh itu lagi, semakin jelas ku dengar, meraung-raung seolah merapal mantera yg tak ingin ku dengar. Aku berjalan perlahan, membiarkan setiap inchi rasa penasaran menghantui. Berusaha berjingkat perlahan agar tak ada yg mendengar kalau aku mendekat diam. Aku melihat celah untuk bisa mengintip ke dalam, kebetulan sekali batin ku. Mengintai ke dalam membiarkan rasa ingin tahu ku membuncah keluar. Dan sungguh aku tak mempercayai apa yg ku lihat, persis berdiri sejajar didepan ku. Bentuk rahangnya, lekuk hidungnya, binar bola matanya, tarikan garis senyum bibirnya, warna rambutnya, ukuran tubuh nya, semua menyerupai ku. Dan Bunda jelas berada disana memberikan suapan demi suapan ke makhluk yg persis dengan ku. Menenangkan saat ia mengamuk tak ingin menelan makanan yg bunda berikan. Tapi tak ada kalimat yg jelas. Menggapai-gapai tangan bunda berusaha meraih setiap benda yg bunda pegang dan tetap dengan racauan yg sama.

“Rembulan, hentikan! Sudah berulang kali Bunda katakan tetap tenang kalau makan, atau Bunda tak akan pernah mengunjungi mu lagi”.

Sekarang aku mengerti, sungguh memahami. Jika setiap mimpi-mimpi mengisyaratkan semua misteri yg memang harus ku ungkap sendiri.

°°°
Namaku Mentari, aku memiliki saudara kembar yg tak pernah ku temui, sebab Mentari tak akan pernah bersisian dengan Rembulan. Sebab Mentari akan harus berganti jika kau ingin melihat Rembulan. Sebab Mentari dibiarkan memberikan cahaya di atas bumi sedang Rembulan dibiarkan tersembunyi jauh di bawah bumi dibiarkan menawarkan kegelapan. Sebab Bunda malu mengakui kalau Rembulan tak seperti Mentari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s