Perjalanan

Alkisah disuatu siang yg terik, berjalanlah seorang wanita yg manis dan rupawan 😁 ia bermaksud ingin melakukan perjalan dari Binjai menuju Tanjung Pura. Kebiasaan si wanita ini kala perjalanan dinasnya adalah selalu memilih angkot yg brwarna biru aka timtax untuk mengantarkannya k tempat yg ia tuju. Siang itu kembali lagi ia menaiki si timtax biru, mengambil posisi duduk yg tak jauh dari supir membuatnya agak kurang nyaman, tapi apa daya si wanita tak dapat memilih posisi favoritnya duduk disisi jendela. Dengan agak terkantuk si wanita melalui perjalanan siangnya selalu, tapi untuk siang itu dia mendapatkan pelajaran tak terduga.
Ketika supir timtax saling bertukar cerita dengan ibu tua yg dduk d sebelahnya, di saat itu pula si wanita turut mendengarkan kisah mereka.
Adalah si supir yg memiliki anak yg selalu berharap tinggi serta tekad yg tak bisa d anggap remeh. Dengan hanya menjadi seorang supir, ia dapat mengkuliahkan anaknya, tak hanya satu tapi bahkan dua. Kalimat yg masi sering diingat oleh si wanita adalah, ‘Buk, tak perduli sberapa pun miskinnya aku, asal anakku mendapatkan yg ia suka, aku bahagia ☺ aku tak menyangka dapat mengkuliahkan mereka berdua, tapi aku yakin Buk, setiap anak membawa rejekinya masing2. Lantas kenapa aku yg mesti risau?’
Mendengar kalimat si supir yg begitu percaya membuat si wanita kembali takjim mendengarkan cerita mereka.
‘Anakku keduanya memiliki tekad yg besar sehingga aku tak tega mematahkan smangatnya, intinya mereka niat lantas tinggal aku yg berusaha. Pernah sekali anakku mengeluh, bertanya knapa hidup ini terlihat tak adil, saat ia harus berjuang utk kuliahnya, ada temannya yg malah tak perduli dgn itu, kuliah hanya sekedar mentuntaskan ingin orang tua, padahal hidupnya berkecukupan. Ku bilang k anakku kalo hidup itu selalu adil. Bukankah sudah jelas Nak, saat kau sebutkan contoh itu. Tak perlu ada yg diragukan. Kau punya kemauan, tinggal aku yg berjuang. Hasil dari prestasi sudah membayar lunas semuanya. Saat ini Buk, seorang anakku telah lulus dan bekerja, aah tak bisa ku bahasakan bahagiaku’.
Percakapan sederhana si supir dengan ibu itu membuat si wanita terdiam. Masih banyak ternyata nikmatNya yg kurang disyukurinya. Hingga saat ini si wanita masi mengenang sepetik kisah diperjalanannya siang itu.

Sesampainya si wanita dilokasi tujuan, sekali lagi ia belajar dari sisi lain kehidupan yg sering ia lupakan. Anak didiknya sore itu mengajarkannya tentang objektifitas, tentang bagaimana seharusnya menilai tanpa dipengaruhi oleh penampilan yg sekarang jarang ia terapkan. Mereka menyampaikan pemikirannya tentang bagaimana cara mereka mengisi angket pengajar yg tak dipengaruhi oleh faktor luar, mengerti dan suka dengan metode maka 4 lah nilai tertinggi, tak senang dan tak sesuai pola, maka jangan kaget jika angka 2 atau bahkan 1 bertengger d angket, terlalu objektif, begitulah pemikiran si wanita sore itu.

Perjalanan si wanita hari itu memberinya banyak hal yg pantas dibawa pulang untuk dikenang 🙂
Belajar untuk bersyukur dengan segala yg telah dimiliki serta tak lupa untuk selalu menggunakan sisi objektifitas ketika memberikan penilaian, bukankah akhir2 ini si wanita memang kerap terlalu subjektif.
Pelajaran selalu bisa didapat dimana saja bukan, tak perduli tempat bahkan si pemberi pelajaran.
Kehidupan memang selalu memberi banyak pelajaran bagi si wanita dan ia tak akan pernah bosan untuk belajar dari segala kisah kehidupan☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s