Senja

Senja ini kembali ku tatap sepi jalanan, nanar, tanpa ada harapan. Burung-burung beterbangan berharap mencapai sangkar sebelum petang, angin nakal juga kembali meniup kerudungku entah sudah yg keberapa kalinya tapi aku masih tak perduli, kembali ku nikmati senjaku sendiri.
Mak, aku rindu pancaran sinar matamu seperti senja beratus hari lalu, atau bahkan pelukan rapat bau tubuhmu. Entah mengapa hari ini perasaan itu kembali menggebu, padahal aku berjanji untuk tak mengucap rindu bahkan pada bayangmu.

°°°°°

Senja mulai merapat dibalik awan-awan jingganya, suara alam mengisyaratkan malam akan tiba segera. Ku tutup jendela rapat-rapat agar angin atau bahkan nyamuk jahil tak berani mendekat.
Nak, jika senja ini kau masih tetap tak kembali mesti berapa ratus senja lagi harus ku nanti? Padahal aku teramat rindu pada keluh kesahmu tentang hari yg berlalu atau bahkan senyum kocakmu yg sering menggodaku. Masihkah kau ingat Nak, beribu senja yg kita habiskan bersama di pinggir jendela, seraya berharap Ayahmu akan pulang dengan hasil tangkapannya. Ya senja pula yg menghantarkannya kembali pada Penciptanya.

°°°°°

Aku harus segera kembali batinku. Mengecup senja yg sama seperti dahulu, bergelayut manja pada bahumu Mak, sembari engkau belai lembut dahiku, atau bahkan kau dendangkan berbagai petuah untuk menasehatiku. Senja memang tak pernah sama tanpa mu Mak.

°°°°°

Aku masih ingat senja itu Nak, saat kau bersikeras pergi meninggalkan ku yg tua ini sendiri, tak kau hiraukan pintaku, bahkan hingga aku mengejarmu pun kau tetap lari. Aku bukan tak ingin melihat pancaran kebahagiaan dari wajahmu, bukan itu alasanku menghalangi langkahmu, aku takut kau tak kembali Nak, melupakan aku yg sendirian di rumah tepi senja kita, nyatanya memang begitu sekarang adanya. Kau pergi bersama senja hari itu.

°°°°°

Mak, aku memang terlalu bodoh. Membiarkanmu sendiri di rumah senja kita, bersikeras pergi padahal aku melihat air mata mu di pipi. Aku yg saat itu yakin kalau senja yg itu akan menghantarkan ku pada bahagia tapi aku terlalu yakin Mak. Hingga sekarang aku sadar kalau bahagiaku ada di rumah senja kita, bukan dengan segala keramaian gila yg aku merasa sendiri di tengahnya.
Tunggu aku Mak diperbatasan senja, aku ingin memelukmu lagi mesra.

°°°°°

Mungkin bukan senja yg ini Nak, masih akan ada senja yg lain, aku masih akan bersabar dalam diam menanti kepulanganmu, sama seperti beratus senja yg ku nikmati sendiri dengan harapan kau kembali pulang untukku. Nak, aku tak pernah lelah untuk menanti mu selalu.

°°°°°

Mak, aku pulang! Aku ingin menikmati senja lagi bersamamu menggantikan beratus senja kita yg hilang karena tingkahku. Aku tak ingin sedih itu ada lagi di wajahmu, tersenyumlah Mak, aku sudah pulang. Maafkan kebodohan anakmu senja itu.

°°°°°
Ya Nak, kau memang sudah pulang. Tak hentinya aku bersyukur akhirnya senja pula yg menghantarkanmu kembali. Tapi aku tetap tak bisa tersenyum Nak, karena kau bukan pulang kepelukan ku, kau kembali pulang kepangkuan Tuhanmu disaat senja yg selalu ku harap hadirmu. Kali ini aku kalah Nak, biarlah mungkin senja juga yg kelak akan membawaku sama seperti kau dan ayahmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s