2013-2014

Ada banyak cerita untuk saya di rentang tahun tersebut, banyak kisah yg akhirnya mengajarkan saya banyak hal. Banyak pelajaran yg bisa saya putar ulang dalam memori. Ya bagi saya sekarang mungkin 2013-2014 merupakan tahun dimana saya mulai berfikir serta merenungkan semua hal yg terjadi.

Pada tahun 2013 lalu merupakan tahun terakhir saya di perkuliahan, tahun dimana saya harus menyelesaikan tugas akhir yg bernama skripsi. Skripsi bagi saya dulunya bukan merupakan hal yg menakutkan melainkan hal yg memang harus diselesaikan, tapi setelah tau siapa yg akan menjadi pembimbingnya seketika penilaian saya berubah. Bagi saya tahun ini menjadi tahun tersulit dalam perkuliahan saya, teringat bagaimana awalnya saya semangat mengumpulkan bahan serta membuat draftnya sejak akhir Januari, dari perpustakaan kampus hingga ke pustaka kampus tetangga, sampai saya menghubungi salah satu teman untuk dipinjam kartunya sebagai alat untuk meminjam buku disana. Ya namun pada akhirnya saya terhenti di satu titik yg bernama PENANTIAN, dikarenakan proposal saya yg tak kunjung diperiksa oleh pembimbing. Saya masih ingat jelas bagaimana raut gembira teman sekelas saya ketika proposal mereka kembali dengan bubuhan tanda tangan sang dosen serta bertanya bagaimana kemajuan proposal saya, saat itu saya hanya tersenyum getir, tak ada perkembangan tak ada kabar 🙂
Pada waktu itu saya merasa kesal meskipun belum teramat sangat, saya tak menginginkan tanda tangan PS bagi saya proposal saya kembali ke tangan dengan penuh gambar coretan jg merupakan hal yg menggembirakan, tapi saya memang harus bersabar, sejak bulan Februari menyerahkan draft April baru saya terima kembali si proposal dengan SEDIKIT gambar yg bagi saya tak berarti karena memang saya sudah mengalami banyak bongkar ulang dari PS yg lainnya. Saat itu di kampus saya pembimbing skripsi terdiri dari 2 orang, bisa dibayangkanlah ya gimana susahnya menggabungkan 2 pemikiran dalam 1 tulisan.
Setelah acc proposal barulah saya melakukan penelitian, ya disaat teman saya banyak yg sudah mulai hampir selesai saya baru mau mulai melangkah. Saya memang memiliki sifat kompetitif yg kadang membuat saya susah sendiri -_-
Ketika berubah nama menjadi skripsi pun perjalanan saya masih dibilang tak mudah, setelah acc dari PS 2 yang selalu bongkar ulang saya berpikir mungkin hanya butuh waktu sebentar ditangan PS 1 nantinya, tapi ternyata dugaan saya salah, Juni ke Agustus bukan waktu yg singkat terlebih jika saya mengingat pertengkaran kecil dengan si ibu PS 1 yg membuat saya menangis tersedu di kampus, saya memang cengeng kala itu. Atau bahkan ketika saya hanya mendengar kata ‘Ya sudah kalau begitu’ setelah menanti 2 bulan. Pedih? Lumayan. Tapi dalam kurun 2 bulan penantian itu saya banyak belajar sabar, mulai membiasakan diri dengan salah satu ibadah yg insyaAllah menjadi kebiasaan saya hingga hari ini.
Saya masih ingat ketika masa-masa saya sibuk mencari referensi buku hingga sore dan saat itu ditemani kiki yg terkejut melihat darah keluar dari hidung saya, ah ternyata saya sampai kelelahan hingga tak sadar kalau badan saya memang tak tahan. Atau ketika teman saya mulai bisik sana sini mengasihani nasib saya yg semangat di awal tp sulit di perjalanan, ya saya memang terlalu bersemangat di antara yg lainnya kala itu.
Setelah semua penantian itu tiba hari dimana saya mempertanggungjawabkan semua hal yg udah saya tuliskan di skripsi, sekali lagi saya harus menghadapi kenyataan kalau kedua orang PS saya tak bisa hadir menjadi penguji sidang karena sedang berada di luar negeri, hidup memang tak pernah mudah kan? Saya merasa seperti di anak tirikan hari itu, tanpa pembimbing dan dengan di uji oleh dosen dadakan, toh pada akhirnya gelar itu saya dapatkan juga setelah tetesan air mata dan penantian lama.
Dari hal itu saya belajar untuk mengambil segi positifnya, karena hidup memang tak pernah mudah maka perjalanan perkuliahan saya juga harus bernada sama, mungkin kala itu jika saya bukan mendapatkan PS seperti si ibu tsb mungkin saya tak akan pernah kenal arti sabar serta penantian dalam kehampaan, atau mungkin jika skripsi saya berjalan lancar bisa jadi saya menjadi sombong dikarenakan tak ada hal yg susah saat kuliah, tak ada nilai mata kuliah saya yg jelek bahkan tak ada kesulitan saat tugas akhir. Dan mungkin saya tak akan mengenal dan terbiasa dengan ibadah dua rakaat itu.

Selesai sidang di bulan 9 dengan hanya bermodalkan surat keterangan lulus sementara, abah mengirimkan lamaran saya ke salah satu BUMN yg sedang membuat proyek di Brandan, saya memang tak berminat sat itu karena hanya berniat menyenangkan hati orang tua toh saya tetap mengatakan iya. Saat interview dan segala macam tesnya membuat saya yakin itu bukan bidang saya serta berdoa agar tak diterima, entah kenapa kali ini doa saya cepat terlaksana. Tak ada kabar pun tak ada panggilan.

Dulu saat melihat orang lain wisuda saya merasa ingin cepat melakukan itu juga tapi ketika tiba hari dimana saya mengenakan toga di penghujung November ternyata saya tak sebahagia yg saya kira. Hanya euforia seketika yg dijalani dengan biasa saja.

Selesai wisuda baru kemudian saya berfikir akan kemana. Menanti ijazah yg katanya akan selesai di Januari membuat saya menjadi penanti lagi di rumah sendiri.

Di bulan Desembernya saya hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa ada kegiatan yg jelas, dengan segala aktifitas malas-malasnya hingga membuat berat badan saya mencapai angka yg tak pernah saya kira. Pengaruh skripsi dulu slalu begitu saya menjawabnya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s