Ramadhan Datang Lagi

Marhaban yaa Ramadhan.
Alhamdulillah udah 9 hari Ramadhan di 1435 H ini dilalui, masih dikasi kesempatan oleh Allah untuk merasakan kembali nikmat Ramadhan.
Puasa tahun ini merupakan puasa yg lumayan berat yang saya rasakan, kenapa? Entahlah, saya pun tak tau pasti jawabnya, tapi di hari ke 9 ini saya merasa hari-hari puasanya lamaa sekali berjalan dibandingkan dengan puasa-puasa tahun sebelumnya.
Di siang hari saya merasa pengen makan ini, pengen minum itu tapi saat azan maghrib berkumandang,tetoot, semua keinginan saya lenyap, berbuka dengan teh manis hangat saja udah melegakan, tak ada keinginan sama sekali untuk minum sirup beserta es yang pasti semriwiing itu.

Apa yang saya rindu saat ramadhan tiba?
Dulu semasa kecil, setiap malam selalu tarawih bersama kakak, adik dan tetangga yang umurnya sepantaran dengan saya kala itu, beramai-ramai kami berjalan beriringan menuju mesjid yang letaknya tak begitu jauh, sesampainya di mesjid bukannya memilih posisi di dalam malah ambil posisi diluar, apalagi kalau teman-teman lagi kumat isengnya saat solat bisa saja mukena satu shaf anak-anak kinyis itu saling bertaut, aah tak dapat lah saya bayangkan sekarang gimana ribut dan hebohnya saya kala itu.
Sekarang teman-teman saya yang dulu selalu pergi tarawih bersama itu telah memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ada yg sudah menikah, pindah ke provinsi lain, bahkan saya dan keluarga juga sudah tak menempati rumah kami yang dulu.
Jika saya tarawih dan melihat tingkah anak-anak kecil dan beranjak remaja yg solatnya sikut-sikutan atau sengaja memperlama solatnya agar masbuk dan mengejar ketinggalan dengan terburu-buru solat padahal caranya salah, saya hanya bisa tersenyum. Dulu saya pernah diposisi itu.

Atau bagaimana dulu Almarhum Atu (kakeknya abah saya) selalu membelikan kami lilin beserta kembang api disetiap malam-malam terakhir bulan ramadhan. Lilin-lilin kecil berjajar di kursi batu di depan rumah kami, diselasar teras, kembang api kecil yang di gantung di ranting-ranting pohon mangga, menghidupkannya dengan cara mendekatkan nyala lilin, kenangan ini pun masi saya ingat hingga sekarang.

Bagaimana hebohnya saya setiap Lebaran segera datang, bergegas menulis kartu ucapan Lebaran untuk diantar ke rumah teman-teman saya, memilih kartu Lebaran yang manis dan membuat saya merasa sayang untuk memberikannya kepada teman-teman. Dulu saya masi menyimpan kesemua kartu Lebaran balasan teman, tapi ketika banjir besar atau saat pindahan rumah kartu-kartu itu lenyap, saya tak ingat pasti. Sekarang kebiasaan menulis kartu Lebaran itu berganti dengan hanya megirim pesan singkat saja.
Aah, betapa saya rindu Ramadhan-Ramadhan itu.
Semoga kita masih tetap diberi kesehatan oleh Allah agar tetap dapat melaksanakan ibadah Ramadhan hingga akhir dengan sebaik-baiknya.
Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s