Tentang Kehilangan

Gambar

 

gambar dari sini

Beberapa hari ini saya kerap mendengar kabar tentang kehilangan tapi dalam konteks yg berbeda. Pertama mengenai kehilangan anggota keluarga yg kita sayangi dan yg kedua kehilangan barang yg dianggap penting dan berharga. Saya akan menceritakannya satu persatu sesuai urutan ya.

Boleh kan saya menggunakan kata kehilangan disini sebagai ganti untuk kata meninggal? Menurut saya kehilangan salah satu anggota keluarga adalah ujian yg lumayan berat, bagaimana tidak, seseorang yg dalam kurun waktu tertentu hadir mengisi berlembar-lembar cerita dalam kisah hidup kita, menggoreskan berbagai petuah dan nasihat, serta terkadang sering menghadirkan senyum manis di wajah kita harus meninggalkan kita untuk selamanya di dunia ini. Mungkin seketika hidup yg kita lalui tiba-tiba terasa begitu berbeda, sedih yg lumayan mendera hati kan, kehilangan sosok dia yg begitu kita sayang. Sedih adalah ungkapan perasaan yg kerap dilakukan, tapi asalkan masih dalam tahap wajar serta tidak berlarut-larut.

Kabar kehilangan yg pertama kali saya dengar adalah dari salah satu sahabat saya di masa kuliah, ia kehilangan oppung yg dalam kurun rentang hampir setengah tahun tidak berjumpa dikarenakan sahabat saya sekarang berdomisili di Medan sedangkan si oppung berada di kampung daerah Gunung Tua. Saat itu sahabat saya merasakan kesedihan yg mendalam karena harus pulang ke kampung halaman dengan perasaan dukacita tak seperti biasanya. Seperti perasaan kehilangan pada umumnya selalu saja ada pesan yg belum tersampaikan, ya salah satu keinginan oppung sahabat saya itu adalah ingin melihat sahabat saya berjodoh dengan lelaki yg bisa berbahasa mandailing, alasannya sederhana si oppung ingin bisa bercerita dengan si cucu menantu kelak dikarenakan selama ini si oppung sangat ingin berbagi cerita dengan para cucu menantunya tapi bahasa menjadi kendalanya, oppung hanya dapat menguasai beberapa kosa kata dalam bahasa indonesia sedangkan cucu menantunya yg lain rata-rata berbeda suku dengan mereka dan tidak menguasai bahasa mandailing, jadi tak heran jika si oppung ingin cucu menantu yg bisa berbahasa mandailing. Sederhana tapi mengena.

Kabar yg kedua dari salah seorang dosen di kampus saya. Istri beliau meninggal dunia dikarenakan sakit yg di derita. Saya tak mendapat kabar pasti sakit apa yg diderita, tapi yg saya tahu satu lagi makhluk kembali pada Penciptanya.

Kabar yg ketiga saya ketahui saat berseluncur di dunia maya, dari salah satu situs jejaring sosial, saya tak mengenal siapa dia, tapi entah mengapa saya ikut terlarut merasakan kesedihannya. Saat melihat salah seorang teman memposting kabar duka untuk temannya yg baru saja ditinggalkan oleh sang buah hati yg baru berumur kurang lebih 1 bulan, sontak saya pun terenyuh, rasanya belum lagi hilang rasa sakit karena proses bersalin, tapi Sang Pemilik Nyawa berkehendak lain. Ternyata ini bukan kesedihan pertama yg ia rasakan, sekitar dua bulan setelah pernikahannya seseorang yg belum lama menjadi teman hidupnya menghadap Penciptanya. Entah kata apa yg pantas saya ucapkan untuknya, saya pun tak berani memposisikan diri saya sepertinya. Teman, Allah sedang ingin memberi ujian kenaikan tingkat untukmu.

Kehilangan dalam konteks yg kedua adalah kehilangan harta benda. Kemarin pagi saat pertama kali membuka akun saya di situs jejaring sosial ini, beranda saya diisi dengan dua status yg bernada kehilangan secara berurutan. Salah satunya merupakan status dosen saya yg mengatakan bahwa beliau baru saja kehilangan dua sepeda motornya yg berada di garasi rumahnya. Sekilas saya kemudian teringat bahwa bapak dosen yg satu ini memang kerap memilih menggunakan sepeda motor daripada mengendarai mobil sebagai transportasi untuk mengajar ke kampus atau bahkan ke tempat-tempat lain. Bahkan saat beliau masih menjadi dosen pembimbing skripsi saya hal pertama yg saya lakukan untuk memastikan kehadiran beliau di kampus adalah dengan melihat kearah parkiran keberadaan sang ninja biru berhelm hijau, jika tak saya temukan keberadaan sang ninja biru maka kemudian saya akan mengirim pesan singkat kepada beliau, hal yg aneh memang, tapi bagi saya ninja biru berhelm hijau merupakan salah satu ciri beliau. Dan saat ini mungkin tak akan ada lagi ninja biru berhelm hijau yg akan terparkir di areal fakultas.

Status kehilangan kedua diposting oleh salah satu sahabat saya semasa jaman sekolah dasar. Ia kehilangan salah satu gadget yg kerap digunakannya. Harga mungkin tak begitu masalah untuknya, tapi beberapa data penting beserta kenangan pada barang tersebut bagaimana melupakannya?

Dari beberapa hal tersebut kembali saya dapat belajar dan mengingat bahwa segala sesuatu yg kita miliki di dunia ini hanyalah bersifat sementara, mereka hanya dititipkan kepada kita dalam batas rentang waktu yg tak dapat kita tentukan. Seperti kalimat penutup status dosen saya ‘Semua memang milik Allah’. Jadi kita hanya tinggal menunggu waktu kapan Sang Pemilik akan kembali mengambil apa saja yg telah dititipkanNya.

Semoga untuk para keluarga yg ditinggalkan selalu diberi kesabaran dan keikhlasan serta mereka yg telah meninggal dunia diampunkan segala dosanya dan diterima amal ibadahnya.

Aamiin.

Serta untuk dosen dan sahabat kecil saya semoga Allah mengganti yg telah hilang dengan hal yg lebih baik lagi.

Aamiin.

 

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

‘Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada Allah jualah kita kembali’.

*PB 13th February 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s