Aaaah~

Mungkin aku telah menyakiti satu hati demi menyatukan dua hati.
Atau mungkin aku telah melukai satu hati untuk menyatukan dua visi.
Sejujurnya yg ku tau aku telah melakukan apa yg benar menurutku.
Tapi entah mengapa seolah aku telah menggoreskan luka disatu hati,mencabut kepercayaan yg terpatri.
Aku tak pernah berniat luka yg terbuka itu semakin menganga lebar,aku hanya ingin kalian kembali bersatu dalam ikatan yg telah sejatinya belum terikrar pasti.

Sahabatku,adikku.
Mungkin saat ini disudut kamarmu engkau menyalahkan aku yg hari itu tak ada sedikit pun memihak padamu.
Mungkin saat ini kepercayaanmu padaku hilang berganti rasa benci yg teramat.
Atau mungkin saat ini engkau menyalahkan dirimu mengapa menceritakan semua hal itu kepadaku.

Sahabatku,adikku.
Maafkan aku yg mungkin saat ini tak pernah ada lagi dihatimu.
Maafkan aku yg hari itu hanya menatapmu pergi tanpa ada niat untuk mengejarmu.
Maafkan aku krna kelancanganku telah ikut andil dalam kisah cerita hidupmu.

Sahabatku,adikku.
Mengertilah sayang,bahwa tak selamanya ego yang kau puja puja itu akan menjadi teman yg kekal bagimu.
Engkau harus bisa mengaturnya agar jangan sampai engkau yg dikendalikan olehnya.
Sayang,coba engkau pikirkan bagaimana perasaan ia yg telah engkau lukai?
Bagaimana hancurnya ia ketika kau berusaha acuh saat ia mencari yg pasti?
Aku tau,mungkin engkau akan menghujatku karna seolah olah aku berpihak kepadanya.
Tidak sayang,sama sekali tidak.
Aku hanya ingin engkau mengerti bagaimana perasaan seseorang.
Aku hanya ingin engkau sedikit mengenyampingkan perasaan ego semu mu.
Aku hanya tak ingin engkau menyesali keputusanmu yang hanya berlandaskan kekerasan kepalamu.
Karena aku telah dahulu merasakannya.
Merasakan bagaimana aku menyakiti hati seseorang.
Merasakan bagaimana aku dikendalikan egoku.
Merasakan bagaiman pahitnya saat aku ternyata masi menyimpan rasa untuk dia yg pernah ku sakiti.
Tahukah engkau sayang.
Mungkin ia yg kita sakiti hatinya ternyata masi menyimpan derap hatinya rapat hanya untuk kita.
Atau mungkin ia dengan tulusnya memaafkan keegoisan yg terlalu sering kita perbuat.

Sahabatku,adikku.
Kakak,tidak pernah berhenti memikirkan hal ini semenjak hari itu untuk pertama kalinya engkau tak membalas pesan singkatku.
Kakak merasa terlalu ikut campur dalam hubunganmu sehingga menjadi bumerang bagi ukhuwah ku padamu.
Kakak hanya bisa terdiam saat akhirnya kau membalas pesan singkatku dengan datar tanpa adanya sapaan.
Sayang,bisa jadi mungkin semenjak hari itu kita tak akan serapat dulu.
Tapi kakak harap engkau tak melupakan pesanku untukmu.
‘tolong dikendalikan egomu,sebelum ia yg mengambil alih hidupmu,akan terlalu banyak hal yg menjadi sia sia jika kau terus berlaku seperti itu sayang. Maafkan kelancanganku yg dengan sengaja memasuki babak dalam hidupmu’

*Medan 20 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s